Cogito Ergo Sum

Peristiwa Karbala

Perjalanan Suci pun Dimulai…

Tanggal 3 Dzulhijjah Imam Husein As dan Khafilah Syuhada meninggalkan mekah. Setelah tinggal disana selama 4 bulan sejak Syaban. Muslim bin Aqil pun sebelumnya telah di minta tuk menyambangi Kufah sambil melihat keadaan. Selama itu pula ratusan surat surat penduduk Kuffah mengalir kepada Beliau As.Semua menyatakan dukungan dan mengharapkan Kedatangan Beliau As.

Saat itu kabar mengenai terbunuhnya utusan beliau Muslim bin Aqli belumlah sampai kepada Beliau. Karena di saat yang sama Imamul Husein As dan rombongan meninggalkan Mekah..

Khotbah dihadapan penduduk Mekah sebelum keberangkatannya…

“Maha Suci ALLAH…Segala sesuatu terjadi atas kehendakNya. Tiada kekuatan kecuali dengan izinNya. Shalawat dan salam ALLAH atas RasulNya. Maut adalah sesuatu yang melingkar pada manusia bagai seuntai kalung dileher seorang dara. Betapa rindunya aku untuk segera berjumpa dengan para pendahuluku melebihi rindunya Yaqub As kepada Yusuf As.

Sebaik baik hal adalah kematian yang akan kualami, Aku dapat menyaksikan badaku dicabik cabik oleh srigala srigala buas padang pasir disebuah tempat diantara Nawasis dan Karbala. Mereka lalu mengisi penuh kantong kantong mereka yang kosong. Tak ada lagi tempat pelarian dari kejaran takdir.

Ridho ALLAH adalah Ridho kami Ahlulbayt. Kami akan tabah dalam menghadapi segala cobaan dan ujianNya seraya berharap ALLAH akan memberikan PahalaNya yang besar kepada Mereka yang sabar. Daging yang bersal dari Rasulullah SAWW tidak akan berpisah darinya. Tapi sebaliknya akan berkumpul dengannya menjadi satu dihadapan ALLAH AWJ, Tuhan yang Maha Suci. Beliau Saww akan bergembira melihat mereka dan melalui merekalah semua janjinya akan terpenuhi.

Barang siapa yang siap mengorbankan jiwa raganya demi kami dan ingin segera berjumpa dengan ALLAH, segeralah bergabung dengan kami. Karena esok Pagi Aku akan segera berangkat. Insya ALLAH..!!”

Inilah epik perjalanan bermula..penegasan bahwa Beliau As akan segera bertolak ke Kuffah, sebuah kota dimana dalam menujunya, Takdir ALLAH Awj menghendaki Imam Syahid dalam perjalanannya.

Disaat yang sama, turun Pasukan Malaykat yang sama yang pernah membantu Datuknya Saw di badar dan menawarkan bantuan sebagai anggota kafilah..

Imam Suci As berkata : ” ALLAH berkehendak menyaksikan Aku Syahid, dan Bila bukan karena Takdir ALLAH menghendaki aku syahid di sana akan aku perangi mereka dengan bala tentara langit ini, akan tetapi disanalah Pusaraku dan hanya Putraku Ali yang akan selamat (sebagai penerusku)”.

Setelah sebelumnya menjelang subuh, An Nabi Saww menyambangi Imam Suci dan Beliau yang Suci Saw bersabda :”Anakku Husein, Pergilah.. karena Allah berkehendak menyaksikan engkau syahadah terbunuh, dan melihat Putra Putrimu di seret sebagai tawanan”

Usai Subuh di hari 3 Dzulhijjah tahun 60H beliau bertolak dari Mekah. Kota pertama yang menjadi saksi Beliau As.

2 Muharram Awal Hari Duka

2 Muharam…Sampailah Imam Suci As dan rombongan di sebuah tempat tak jauh dari eufrat .. Karbala..Setelah berangkat dari Mekkah saat subuh di penghujung bulan Dzulhijjah melalui :
Tam’in

  • Zatu Irq Syuquq
  • Khuzaimiyyah
  • Tsalabiyyah (disini Imam sempat beristirahat saat matahari telah meninggi) kemudian beliau melanjutkan perjalanan kembali hingga menuju Zubalah; Dikota inilah Imam Mulia As menerima kabar mengenai syahidnya Muslim bin Aqil
  • Zubalah
  • Waqishah di bukit Dzi Hasam (wilayah Kuffah) Imam Suci As bertemu dengan pasukan Al Hurr sebuah pasukan yang diutus Gubenur Kuffah – Ubaidillah bin Ziyad – tuk mempersempit gerakan Rombongan Imam Husein As.

Karena pertemuan inilah Rombongan Suci tersebut menempuh Jalan memutar menuju kota Kuffah melalui

  • Qadisiyyah
  • Adzibu al Hajanat
  • Mughitsah
  • Nainawa
  • Karbala

Sampailah Rombongan Suci di sebuah tepat bernama Karbala pada Hari ke 2 Bulan Muharam, Karb artinya tanah, bala artinya duka

Imam Suci As berhenti dan bertanya kepada sahabat Beliau dan dijelaskan bahwa Tempat ini bernama Karbala. Mendengar ini pun Imam Suci As berujar : “ Ya Allah… Aku berlindung kepadaMu dari Karb dan Bala (petaka dan Musibah)

Beliau As pun berkata kepada rombongan Suci tuk berhenti dan membuat tenda. “Turunlah kalian semua, Disinilah kita harus berhenti, karena di tempat ini sesuai kabar dari Datukku Saw bahwa di tempat inilah kuburan kita”

Seraya mempersiapkan segalanya Imam As berujar :

“Duhai Masa!, Kau bukanlah kawan sejati, kau hanya berputar antara pagi dan petang antara pencari dan kawan dan yang dibantai massal, Kau tak kan pernah puas dengan pengganti. Semua urasan hanya ada ditangan Illahi, Semua yang hidup pasti akan mati, Alangkah dekatnya waktuku untuk segera pergi ke surga tempat istirahatku yang abadi”

Imam Husain As yang dicintai Isi Langit & Bumi

Nun jauh disana tampaklah sepasukan Bala tentara Langit dengan persenjataan Tongkat dan tombak berkendara Kuda Kuda nan indah datang menghampiri rombongan Suci saat tak jauh meninggalkan Kota Suci Mekkah.. Bala tentara Lagit ini pula lah yang dahulu pernah datang ke Badar sehingga Kaum Muslimin memetik kemenangan besar atas kaum kafirin.

Mereka berkata : ‘Wahai Hujjah ALLAH atas HambaNya setelah Kakek, ayah dan Abangnya! ALLAH SWT menitipkan salam kepadamu dan mengutus kami untuk menyertaimu dalam perjalanan ini dalam izinmu seperti kami dahulu pernah membantu Kakekmu dalam Badar’.

Imam Suci As Syahid As menjawab : “Kita akan bertemu di Karbala, saat aku telah Syahid. Bila aku telah sampai disana temui aku”.

Malaikat pun berkata : ‘Ya Hujjatullah… Kami diutus ALLAH SWT tuk mematuhi Perintahmu dan memenuhi kata katamu’.

Setelah pertemuan ini Imam pun melanjutkan perjalanannya… selang tak berapa lama setelahnya, sekelompok Pasukan bersenjata lengkap lainnya datang menghampiri rombongan Suci, mereka ternyata adalah sepasukan jin mukminin, mereka berkata :

‘Wahai putra Rasul.. kami adalah para pengikut dan pembelamu, jika anda perintahkan, kami dapat membunuh semua musuh musuhmu dan membantai mereka tanpa engkau perlu bersusah payah berperang’ mendengarnya Imam Suci As berkata :

“Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh (ali Imran : 154).

Jika aku berdiam diri disini bagaimana mahluk terkutuk itu diuji? Dan siapakah yang akan menempati kuburan yang telah ALLAH tetapkan untuk aku tempati dihari Dia membentangkan Bumi ini dan menjadikannya tempat berkumpul bagi para pecintaku.

Disanalah amal ibadah dan sholat mereka diterima. Disanalah doa mereka akan dikabulkan. Tempat yang menjadikan jiwa para syiah kami tenang dan tentram juga tempat yang memberikan rasa aman di dunia dan di akhirat.

Tapi datanglah kalian hari sabtu (saat Imam terbunuh, riwayat lain mengatakan hari jum’at). Hari dimana tidak ada seorangpun dari keluarga dan keturunanku yang dikejar kejar. Lalu kepalaku akan di kirimkan kepada yazid bin Muawiyah (Laknatullah)”.

Pasukan Jin muslim pun berkata : ‘Wahai kekasih ALLAH dan Putra Kekasih ALLAH, jika saja perintahmu itu tidak wajib untuk ditaati dan kami diperbolehkan untuk menentangmu, maka keputusan itu akan kami tentang dengan membunuh semua musuh musuhmu’.

“Demi ALLAH, kami dapat lebih melakukannya dari kalian, hal ini dimaksudkan agar yang binasa dengan keterangan yang nyata dan yang hidup dengan keterangan yang nyata pula” Jawab Imam Husein As dengan tegas dan Rombongan Suci pun melanjutkan perjalanannya ke Karbala…tempat dimana Kesucian Bany Hasyim akan tumpah dan Putra Putri Terbaiknya di Nistakan serta di tawan. (terjemahan bebas dari Maulidu al Nabi Saw Maulidu Al Aushiya As dari sanad Imam Jafar As Shodiq As).

Antara Padang Karbala dan Gaza

3 Muharam Malam merangkak mendekati pertengahannya..sementara biru padu menelisik hati.. Saat bunyi sirine meraung raung di belahan bumi lain.. di waktu yang sama kibasan penghancur menghantam sang pencakar langit..Hati serasa pedih.. Jiwa terasa terbakar amarah..Tanpa bisa berbuat banyak Tanpa mampu melakukan apapun..Situasi ini mirip dengan 14 abad silam saat bala tentara yazid (LA) mengisolasi Karbala.

Sungai Eufrat yang menjadi detak kehidupan Kuffah dan sekitarnya terlarang untuk keluarga suci.. Bila binatang saja boleh meminumnya tapi mengapa Mereka tidak.

Sementara dibalik bukit nainawa, Umar putra Saad bin ABi Waqash (Sahabat Setia Nabi saww) telah meng organisir pasukannya tuk bergerak ke karbala bergabung dengan pasukan Al Hurr. Bergelombang jumlah mereka, 73 Khafilah suci di hadapi oleh puluhan ribu pasukan terkutuk. Dibawah pimpinan Umar putra Saad bin Abu Waqash. Para durjana ini pun telah mengisolasi Keluarga suci dari mendekati Eufrat. Wajah wajah berpenampilan Muslim berhati iblis ini telah mengundang Imam Suci As, namun mereka pula telah menggadaikan Baiat mereka dengan sebuah harta upahan Ubaidillah bin Ziyad atas komando Yazid bin Muawiyah (LA).

Ya..!!Baiat mereka telah digadai dan ke syiahan mereka telah dicabut tergantikan iming iming harta Dunia yang menghinakan.. Kelak ALLAH SWT akan membalas mereka sebagai Bahan bakar kekal dineraka..!!

Surya Pagi pun menyingsing di ufuk 3 Muharam.. Disaat inilah Imam Suci As dan Sebagian Sahabat al Husein As masih terus berupaya menyadarkan mereka yang telah sesat dalam fatamorgana kehinaan.

Zuhair bin Al Qain maju dan mencoba menjalankan Ushwah Nabi Suci Saww dengan mengingatkan mereka yang berhati durjana dengan landasan Muslim adalah bersaudara dan saling mengingatkan adalah bagian tugasnya.

Namun hati telah membeku, gemerlap harta telah membuta mereka

Bila baiat saja telah mereka gadaikan, Apa mungkin mereka akan mendengarkan nasihat dari saudara Muslimnya.

Buhair al khudhair, Muslim bin Ausajah, Said bin Abdullah al Hanafi, Basyir al Hadrami, Abdurahman bin Abdi Rabbih al Anshari dan sahabat setia al Husein As lainnya terus berupaya mengingatkan Para penghianat Kuffah berhati licik.

Namun Umar putra saad bin Abi Waqash bersama tentara durjananya telah menghitam hatinya. dan tiadalah mereka akan mendengarkan Sahabat Husein As..Hingga senjapun merangkak naik pada malam 4 Muharam. Semerbak mahdah mengalun lembut dari kemah kemah Suci menemani malam yang menjadi saksi akan blokade karbala.

Sudah seharian ini, Persediaan air menipis di kantung kantung burdah kemah karbala, sementara Pasukan Umar tidak mengizinkan satupun dari anggota rombongan suci yang boleh mendekati Eufrat. Semakin larut, Kesiagaan semakin ditingkatkan. Detik-detik pertempuran tiada sebanding akan segera di gelar. Situasi ini mirip dan terulang di Gaza. Entah kebetulan atau telah direncanakan, Mereka mengisolasi gaza dari semua kebutuhan hidup.

Persiapan perang terbuka pun telah rampung di semaikan. Tentara tentara Zionist dan Pribadi muslim Yazid (LA) telah terinspirasi Karbala mengikuti langkah langkah Umar bin Saad bin abi waqash dan menggadaikan persaudaraan mereka atas muslim lainnya dengan iming-iming harta. Kehancuran mereka yang Zhalim hanya akan menunggu waktu. Dan walau di isolasi sedemikian rupa tidaklah membuat pejuang gaza semakin lemah, malah sebaliknya mereka semakin kuat karena Iman semakin berpedar di hati, sama seperti sahabat sahabat al Husein As yang walau ditekan dan di intimidasi mereka tetap membara kerinduan akan syahadah.

Tangisan Bumi dan Langit atas Al Husain As

Karbala Asyuro 61 H, Bala tentara langit yang sebelumnya menjumpai Rombongan Suci saat bertolak dari Kota mekah kini turun di karbala pada hari terbunuhnya imam. Dengan sayap dan air mata luruh mereka menangisi Putra Kesayangan Rasulullah Saww Al Husein bin Ali bin Abi Thalib As. Lantunan tembang tembang duka mengalir dari lisan mereka seraya mengutuk Pelaku Keji yang akan kekal di Neraka kelak.

“Hai para pembunuh Al Husein Dengan Kejam bersiap siaplah mendapat azab dan balasan . Semua yang dilangit menangisinya, baik Nabi, syahid maupun Rasul utusan. Terkutuklah kalian lewat lisan putra Daud Juga Musa dan Isa pembawa Injil Tuhan”.

Sampai Madinah suara ini bergema hebat..Langitpun tiada lagi terang, seketika gelap menyelimuti semesta, pudaran berganti merah darah selama berhari hari.

Janji ALLAH SWT yang pernah Dia SWT kabarkan kepada KhalilNya Musa As :

Diriwayatkan dari Thalhah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Musa bin Imran pernah memohon dari Tuhannya, “Tuhanku, saudaraku Harun telah meninggal dunia. Ampunilah segala kesalahannya.” Allah menjawabnya dengan berfirman, “Hai Musa anak Imran, jika kau memohon ampunan untuk seluruh umat manusia dari zaman dahulu hingga akhir kelak, niscaya akan kukabulkan permintaanmu itu. Kecuali bagi mereka yang telah membunuh Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib as” [Tadzyil karangan Syekh Muhadditsi].

Perawi lain menceritakan, Saat Imam Husein As di aniaya, Para Malaikat yang menyaksikan kejadian sadis ini memohon pada ALLAH SWT sambil menangis :

“Ya ALLAH… tolonglah Al Husein.. Ini Al Husein kekasihMu dan Putra KekasihMu..”

ALLAH Maha Agung Lagi Maha Perkasa AWJ memperlihatkan cahaya Imam Mahdi As kapada Malaikat dan Dia SWT berfirman :

“Aku akan menuntut balas darah al Husein melalui dia” [Qamqam-e Jakhkhar 2/465].

Dalam riwayat lain dijabarkan dari Ibnu Lai’lah dengan redaksi :

Suatu hari aku sedang thawaf di Ka’bah. tiba tiba pandanganku jatuh pada seseorang yang sedang berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah aku, tapi Engkau tidak mungkin mengampuni aku’.

Aku berkata kepadanya ‘Hai Hamba Allah, takutlah kamu kepada Allah dan janganlah kamu ulangi kata katamu tadi, walaupun dosa dosamu seluas negeri ini dan sebanyak daun seluruh pohon yang ada lalu engkau meminta ampun kepada Allah, Dia pasti akan mengampunimu. Karena Dia Maha pengasih lagi Maha Penyayang’.

Dia pun menoleh kepadaku dan berkata , ‘Mendekatlah kemari sehingga aku bisa bercerita kepadamu apa yang terjadi pada diriku’.

Lalu dia berkata ‘Ketahuilah bahwa aku termasuk salah satu dari 50 orang yang membawa kepala al Husein As ke syam. Setiap Sore kamu beristirahat dan meletakkan kepala tersebut di dalam peti dan asik menenggak arak sambil mengelilingi peti tersebut. Kawan kawanku asyik minum hingga larut dan mabuk sedang aku sendiri tidak bergabung bersama mereka.

Ketika malam tiba, aku mendengar suara petir menyambar dan kilat menerangi angkasa tiba tiba kulihat pintu langit terbuka tampaklah Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Ishaq, Isma’il dan Nabi kita Muhammad (saw) disertai Jibril dan sekelompok malaikat.

Jibril medekati peti tempat kepala al Husein As berada, lalu mengeluarkan kepala tersebut lalu mendekap dan menciuminya. Para Nabi melakukan hal yang sama. Nabi Muhammad (saw) tak kuasa menahan tangisnya menyaksikan kepala cucunya tercinta, Al Husein As yang kini tanpa badan dan terbaring dipadang sahara. Para Nabi pun menghibur beliau.

Jibril pun berkata kepada Nabi ‘Wahai Muhammad (saww), Allah memerintahkan aku untuk mematuhi semua perintahmu mengenai umatmu ini. Jika engkau perintahkan akan kugoncang tempat tinggal mereka dan kujadikan bagian atasnya menjadi bagian bawah sehingga mereka terhimpit ditengah tengahnya, seperti yang kulakukan terhadap kaum Luth’.

Nabi Saw menjawab : “Tidak wahai Jibril. Mereka akan berhadapan sendiri denganku dihadapan mahkamah ALLAH kelak dihari kiamat”.

Setelah itu para malaikat lainnya mendatangi kami untuk menghabisi kami. Akupun berteriak, Ya Rasulullah, tolonglah aku. Beliau Saw menjawab : “Pergilah, ALLAH tidak akan mengampunimu”.

Demikianlah nasib mereka yang menghinakan dan menyakiti keluarga Nabi Suci As dimana seharusnya mereka menjaga amanah Rasulillah Saw bukan malah menggadaikan imannya demi seonggok harta hina. Semoga ALLAH SWT menghukum para pelaku dan pendukung serta para pribadi yang menyokong pembantaian Karbala. Salam kepada Allah dan Rasulnya.

Peristiwa Karbala Mengguncang Alam Semesta

Ketika Imam Suci As terbunuh dengan keji semua mahluk di bumi dan semua isi langit menangis. Jin, Malaikat pun luruh dalam duka mendalam. Bahkan sekelompok Jin Muslim yang sebelumnya menjumpai imam dalam perjalanan keluar mekah Mereka larut dalam ratapan dan senandung.

Sungguh tombak-tombak telah berterbangan menuju al Husein menuju Tanzil Mereka bersorak gembira saat membunuhmu Padahal mereka membunuh Takbir dan Tahlil seakan membunuh kakekmu, Muhammad (saw) Allah bersholawat atasnya begitu pula jibril.

Hai Mata, cucukan deras jangan sampai mengering, Cucurkan airmatamu, tangisi pemimpin yang kini tiada Kini ia terbaring di tepi sungai karbala. Sungguh berita duka bagi kami dan bencana tiada tara.

Karena menyembelih unta kaum Tsamud binasa, Petaka tanpa Bahagia adalah akhir dari nasib mereka. Kehormatan cucu Rasulullah tentu lebih utama dan lebih agung dari hanya seekor induk unta, Sungguh mengherankan mereka tidak berubah rupaMungkin Allah menangguhkan azab para durjana.

Para Syuhada Agung Karbala

As salaamu ‘alal Hussain wa ‘ala ‘Ali ibnil Hussainwa ‘ala Awlaadil Hussain wa ‘ala Ashaabil Hussain..

Jawara Jawara Karbala akan saya coba turunkan bertahap, dimulai dari Para Syuhada Bany Hasyim yang berjumlah 18 Orang. Imam Sajjad As Berkata : “Tiada yang menyamai Para Syuhada Bany Hasyim di muka bumi ini”, lalu berlanjut pada para Sahabat Imam Suci baru kepada para Pribadi Agung yang tidak terukir namanya karena mengharapkan syurga atas keikhlasannya pada Imam semata.

Para Syuhada Agung Bany Hasyim

Imam Hussain Bin Ali bin Abi Thalib As

Imam Husein As menyandang banyak, seperti ar-Rasyid, al-Wafi, az-Zaki, Beliau As dilahirkan di Madinah pada tanggal 3 Sya’ban tahun ke-3 H (Tarikh Ibn Asakir, Maqatil Ath-Thalibiyyin, Usdul-Ghabah dan Majma’ az-Zawa’id), atau pada tahun ke-4 H (Al-Isti’ab dan Al-Kafi).

Ketika mendengar bahwa putrinya, Sayyidah Fathimah telah melahirkan bayi yang dinanti-nanti itu, Rasulullah, sebagaimana disebutkan dalam I’lam Al-Wara, segera bergegas ke rumah menantunya, Ali as. Sesampainya di sana, Beliau meminta Asma binti Umays, wanita yang mengabdikan dirinya sebagai pembantu Fathimah, untuk menyerahkannya. Nabi pun menggendongnya lalu membungkusnya dengan sepotong kain putih lalu mendekapnya, kemudian mengumandangkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri bayi yang berpendar-pendar itu.

Tiba-tiba raut wajah manusia teragung itu menampakkan kesedihan dan matanya melinangkan air bening. Ketika ditanya sebabnya oleh Asma’, beliau menjawab: “Hai Asma’, ia akan dibunuh oleh gerombolan pembangkang setelah wafatku. Allah tidak akan memberikan syafaatku kepada mereka.”

Ali Akbar Bin Hussain

Ali Akbar bin Al-Husain as, dengan julukan Abul Hasan, Seorang pemuda mulia dan gagah berani dari keturunan Abu Thalib. Ibunya bernama Laila binti Abi Murrah (Qurrah) bin ‘Urwah (‘Amr) bin Mas’ud bin Mughits (Ma’bad) Al-Tsaqafi. Ibu Laila bernama Maimunah binti Abu Sufyan bin Harb. Saat itu beliau berumur 27 tahun. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau ( Ali Akbar ) telah menikah dengan seorang wanita bekas budak. Beliaulah orang pertama dari Bani Hasyim yang terbunuh dalam peristiwa Karbala oleh tusukan pedang Murrah bin Munqidz bin Nu’man Al-’Abdi, pada saat membela dan membentengi ayahnya dari serangan musuh. Para sahabat setia Imam Husein as.. segera mengejar Murrah dan menghabisinya dengan sabetan pedang mereka. Menurut riwayat, beliau lahir pada masa khilafah Utsman bin Affan. Para ahli sejarah menyebutnya Akbar untuk membedakannya dari adik beliau Ali Zainal Abidin dan Ali Ashghar.

Imam Al Husein As berkata mengenai Putranya Ali Akbar : ” Ya ALLAH.. saksikanlah aku mengirim kepada kaum itu orang yang paling mirip dengan NabiMu dari sisi rupa, akhlak dan tutur katanya. . Dialah obat kerinduan kami kepada Nabi-Mu. Dengan memandanginya kami dapat mengobati kerinduan itu ” {maqtal Khawarizmi} [Al-Bidayah wa Al-Nihayah 8 hal. 185, Al-A'lam 4 hal. 277]

Ali Asghar Bin Hussain

Ibunya bernama Rubab binti Imruul Qais bin ‘Adi bin Aus. Bayi tersebut Syahid di bunuh secara Keji oleh Harmalah bin Kahil seorang Musuh ALLAH dengan cara di panah. Usianya saat itu masih 6 Bulan, Namun tidak menyurutkan Manusia berhati Iblis menaruh Iba pada seorang Bayi dan dengan Keji memanahnya dengan Busur beracun..

Abdullah Radhi bin Al Hussein

Dia adalah Abdullah bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, dari ibu yang bernama Ummu Ishak binti Thalhah. Riwayat mengatakan bahwa Abdullah Radhi syahid dibunuh saat Imam Suci As selesai mengumandangkan Adzan dan Iqomah di telinga suci bayi tersebut

Masih diperlukan pengkajian mendalam mengenai Nama keduanya, karena Simpang siur saksi yang melaporkan belum diperoleh kesatuan keterangan ada berapa bayi di Karbala, Namun semua sepakat bahwa Putra Putra kecil suci Imam Husein As Semua Syahid di Karbala, kecuali Imam Sajjad As yang saat itu sedang sakit keras.

Abu Fadhl Abbas Bin Ali – Al Qomar Bany Hasyim – Pemegang Panji Karbala

Abul Fadhl Abbas bin Ali bin Abi Thalib, ibunya bernama Ummul Banin binti Hizam bin Khalid bin Rabi’ah bin Wahid Al-’Amiri. Abbas adalah anak Imam Ali yang pertama dari Ummul Banin. Beliau adalah seorang pemuda tampan yang gemar menunggang kuda gemuk dan besar, sedang kedua kakinya menggeser di tanah. Abbas. juga dikenal dengan sebutan Qamaru Bani Hasyim ( Purnama Bani Hasyim ). Dalam tragedi Karbala beliau mendapat tugas. sebagai pemberi air minum. Sewaktu beliau gugur, panji Al-Husain as. ada di tangannya. Beliau merupakan orang terakhir yang gugur dari saudara-saudara kandungnya. Pembunuhnya adalah Zaid bin Raqqad Al-Janbi dan Hakim bin Thufail Al-Tha’i Al-Nabsi. Kedua orang ini mendapatkan luka kutukan di tubuh masing-masing.

Abdullah Bin Ali

Abdullah bin Ali bin Abi Thalib, ibu beliau bernama Ummul Banin binti Hizam. Pada saat terbunuh usia beliau 25 tahun. Kakaknya bekata kepadanya, “Majulah ke depanku, supaya aku dapat mengawasimu! ..” Beliau dibunuh oleh Hani bin Tsubait Al-Hadhrami. Pendapat lain mengatakan bahwa pembunuhnya adalah Khauli bin Yazid Al-Ashbahi dengan panahnya yang dilanjutkan dengan tebasan pedang seorang dari Bani Tamim.

Jafar Bin Ali

Ja’far bin Ali bin Abi Thalib as., ibunya bernama Ummul Banin. Usianya ketika terbunuh sembilan belas tahun. Pembunuhnya adalah Khauli bin Yazid Al-Ashbahi. Pendapat lain menyebutkan Hani bin Tsubait Al-Hadhrami.

Usman Bin Ali

Utsman bin Ali bin Abi Thalib, ibunya bernama Ummul Banin binti Hizam. Ketika terbunuh usianya 21 tahun. Khauli bin Yazid Al-Ashbahi melemparnya dengan panah hingga melemah. Lalu seorang dari Bani Abban bin Darim menebas kepalanya. Utsman inilah yang dalam riwayat disebutkan bahwa Imam Ali as. berkata, “Anak ini kuberi nama Utsman, nama saudaraku Utsman bin Madh’un. Dalam riwayat lainnya, Hubairah bin Murim mengatakan, “Ketika kami sedang duduk bersama Imam Ali as., Imam Ali As memanggil anaknya yang bernama Utsman lalu berkata, “Aku tidak memberinya nama Utsman si khalifah, tetapi nama saudaraku Utsman bin Madh’un.”

Abu Bakar Bin Ali

Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib, ibunya bernama Laila Darimariyah. Ketika terbunuh usianya belum genap 20 tahun. Pembunuhnya bernama Fudhail Al-Azdi.

Abu Bakar Bin Hasan Bin Ali

Abu Bakar bin Hasan Bin Ali adalah Seorang pemuda tertua putra Imam Hasan As yang saat di karbala usia beliau masih 16 Tahun.

Qasim Bin Hasan Bin Ali

Jika Kalian tidak mengenalku, Akulah Putra al Hasan, Cucu Nabi terpilih dan terpercaya, Inilah Husein tidak ubahnya tawanan terpenjara, Diantara orang orang yang tidak ALLAH turunkan Rahmat kepadanya.

Al Qosim bin Hasan Bin Ali bin Abithalib adalah pemuda tampan yang usianya saat itu masih 13 saat membela pamannya al Husein As di padang Karbala.

Abdullah Bin Hassan

Abdullah bin Hasan bin Ali bin abi Thalib adalah pemuda yang baru berusia 13 tahun, Ia Syahid dalam pangkuan Paman Beliau Al Husein As setelah Orang Munafiq membunuhnya secara keji.

Aun bin Abdullah Bin Jafar

Muhammad Bin Abdullah bin Jafar

Abdullah Bin Muslim Bin Aqil

Mohammad bin Muslim

Mohammad Bin Said bin Aqil

Abdul Rahman Bin Aqil

Jafar Bin Aqil

Ketujuh Belas Jasad Mulia ini sekarang terbaring mengelilingi Imam Husein As di Karbala.

Para Syuhada Agung Karbala – Ashaabil Hussein

Shalamullah ala Ashaabil Hussain…

Sebagian Syuhada Karbala dari kalangan Sahabat Setia Imam Husein As. Diantaranya :

Muslim bin ‘Ausajah Al-Asadi

Muslim bin ‘Ausajah Al-Asadi, salah seorang jawara Arab pada masa awal Islam. Beliau adalah orang pertama dari sahabat setia Al-Husain as. yang syahid, setelah mereka yang gugur terlebih dahulu dalam serangan pertama. Beliau termasuk sahabat yang pernah berjumpa dengan Rasulullah saw. Beliaulah yang mangambil baiat untuk Imam Husein as. di Kufah. Muslim bin Aqil mengangkatnya sebagai komandan seperempat jumlah orang Bani Midzhaj dan Bani Asad dalam perjuangannya yang singkat. Ketika hadir di Karbala, beliau telah berusia lanjut.. Beliau termasuk tokoh penting di kota Kufah. Syabats bin Rab’i menyampaikan rasa sedihnya atas terbunuhnya beliau.

Abdur Rahman bin Abdi Rabbih Al-Anshari

Abdur Rahman bin Abdi Rabbih Al-Anshari dari Bani Salim bin Khazraj. Amirul Mukminin Ali as. adalah guru yang mengajarinya Al-Quran. Beliau termasuk salah seorang yang mengambil baiat untuk Al-Husain as. di Kufah. Tampaknya, beliau adalah seorang bangsawan dan tokoh terkemuka.

Hurr bin Yazid Al-Riyahi

Hurr bin Yazid Al-Riyahi, komandan pasukan Ubaidillah bin Ziyad yang membelot dan terpanggil membela Al Husein As. Setelah sebelumnya ia menghadang gerak Imam Husein dan rombongannya yang sedang menuju Kufah dan menggiring mereka menghadap Ibnu Ziyad.

Namun sikap hormatnya kepada keluarga Rasul dan kebesaran jiwanya telah membuat dia terbangun dari tidur yang hampir membuatnya celaka. Hurr sadar bahwa dia berada di tengah pasukan yang berniat membantai Al-Husein dan keluarganya. Jika tetap bersama pasukan ini berarti dia akan mencatatkan namanya dalam daftar orang-orang terlaknat sepanjang masa. Hurr melihat dirinya berada di persimpangan jalan. Dia harus memilih, mati tercincang-cincang dengan imbalan surga atau selamat dan kembali ke keluarga dengan membawa cela dan janji akan siksa neraka. Hurr memilih surga meski harus melewati pembantaian sadis pasukan Ibnu Ziyad.

Dengan langkah mantap Hurr memacu kudanya ke arah perkemahan Imam Husein a.s. Semua mata memandang mungkinkah Hurr komandan yang pemberani itu akan menjadi orang pertama yang menyerang Imam Husein? Namun semua tercengang kala menyaksikan Hurr bersimbuh di hadapan putra Fatimah dan meminta maaf atas kesalahannya. Sebagai penebus kesalahannya, Hurr bangkit dan dengan gagah berani mencabik-cabik barisan musuh. Hurr gugur sebagai syahid dengan menghadiahkan darahnya untuk Islam. Imam Husein memuji kepahlawanan Hurr dan mengatakan, “Engkau benar-benar orang yang bebas, seperti nama yang diberikan ibumu kepadamu. Engkau bebas di dunia dan akhirat.”

Muslim bin Ausajah

Muslim bin Ausajah termasuk kelompok orang-orang tua yang berada di dalam rombongan Imam Husein. Muslim adalah sahabat Nabi yang keberanian dan kepahlawanannya di berbagai medan perang dipuji banyak orang. Ketika Imam Husein mengumumkan rencananya untuk bangkit melawan pemerintahan Yazid, Muslim bin Ausajah mendapat tugas mengumpulkan dana, membeli senjata, dan mengambil baiat warga Kufah. Di padang Karbala, ketuaan Muslim sama sekali tidak menghalangi kelincahan geraknya. Satu-persatu orang-orang yang berada di hadapannya terjungkal. Akhirnya pasukan Ibnu Ziyad mengambil insiatif untuk menghujaninya dengan batu. Muslim tersungkur bersimbah darah. Sebelum melepas nyawa, dia memandang sahabatnya, Habib bin Madhahir dan berpesan untuk tidak meninggalkan Imam Husein.

Habib bin Madhahir

Di Karbala, Habib bin Madhahir mungkin yang paling tua diantara para sahabat Imam Husein. Meski tua, Habib adalah pecinta sejati Ahlul Bait. Kehadirannya di tengah rombongan keluarga Nabi memberikan semangat tersendiri. Di malam tanggal sepuluh Muharram, atau malam pembantaian, wajah Habib terlihat berseri-seri. Tak jarang dia melempar senyum kepada anggota rombongan yang lain. Ada yang mempertanyakan mengapa dia tersenyum di malam yang mencekam ini? Habib menjawab, “Ini adalah saat yang paling indah dan menyenangkan. Sebab tak lama lagi, kita akan berjumpa yang Tuhan.”

Di bawah terik mentari Karbala, Habib berlaga di tengah medan. Usia lanjut tidak menghalangi kelincahannya memainkan pedang. Habib sempat melantunkan bait-bait syair yang menunjukkan keberanian dan kesetiannya kepada Nabi dan kebenaran risalah Nabi. Jumlah pasukan dan kelengkapan militer yang ada di pihak musuh tidak membuatnya gentar. Sebab baginya, kemenangan bukan hanya kemenangan lahiriyah. Kematian di jalan Allah adalah kemenangan besar yang didambakan para pecinta seperti Habib. Ayunan pedang tepat mengenai kepala putra Madhahir dan membuatnya terjungkal. Darah segar membahasi janggutnya yang putih. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Habib sempat melempar senyum ke arah Al-Husein yang memberinya kata selamat menjumpai surga. Habib gugur setelah melagakan kepahlawanan dan kesetiaan.

Nafi’ bin Hilal

Nafi’ bin Hilal, adalah pahlawan Karbala yang dikenal sebagai perawi hadis, qari, dan sahabat
dekat Imam Ali a.s. Kesetiaannya kepada Ahlul Bait telah ia tunjukkan dalam perang Jamal, Siffin, dan Nahrawan dalam membela Imam Ali a.s., ayah Imam Husain. Di Karbala, bersama Abul Fadhl Abbas dan lima puluh orang sahabat Imam Husein, Nafi’ memporak-porandakan barisan musuh untuk sampai ke sungai Furat. Setelah melalui pertempuran sengit, pasukan Imam Husein berhasil mengambil air dan mengirimnya ke perkemahan. Sahabat setia Al-Husien ini dikenal sebagai pemanah mahir. Setelah berhasil membunuh 12 orang dan melukai beberapa orang lainnya, Nafi’ bin Hilal gugur sebagai syahid.

Burair bin Khudhair

Burair bin Khudhair dikenal sebagai orang ahli ibadah dan zuhud. Warga Kufah amat menghormati Burair dan menyebutnya sebagai guru besar Al-Qur’an. Ketinggian iman Burair tampak di malam Asyura. Burair yang biasanya jarang bergurau, malam itu menggoda Abdurrahman Al-Anshari, salah seorang sahabat Imam Husein. Kepadanya Abdurrahman berkata, “Wahai Burair, malam ini tidak sewajarnya engkau bergurau.” Burair menjawab, “Sahabatku, tahukah engkau bahwa sejak muda aku tidak gemar bercanda. Tapi malam ini aku sangat bahagia. Sebab jarak antara kita dan surga hanya beberapa saat. Kita hanya perlu sejenak menari-narikan pedang untuk menyambut pedang-pedang musuh mencabik-cabik tubuh kita, lalu terbang ke surga.” Burair gugur syahid dan namanya abadi. Dia telah mengajarkan kesetiaan kepada agama dan kecintaan kepada Allah, Rasul dan Ahlul Bait.

Sa’id bin Abdullah

Ia Syahid setelah menjadi tameng Imam Husein As, kecintaannya pada Imam membuat ia merelakan Tubuhnya. tak kurang ada 13 anak panah bersarang di tubuhnya demi melindungi Cucu Nabi saat Imam Suci As sedang Shalat.

Zuhair bin Qaim

Zuhair bin Qaim syahid seraya melantunkan puisi ‘Akulah Zuhair putra Qain, Maju membela al Husein dengan pedang, karena al Husein salah seorang cucu dari keluarga suci, bertakwa dan kebanggan manusia, Yaitu Rasulullah yang tidak ada keraguan didalamnya, karena itu aku sabetkan pedang kepadamu tidak ada cela akan hal itu’

Anas bin Harits Kahili

Anas bin Harits Kahili adalah salah seorang sahabat Nabi Saww, ia menjadi saksi bahwa Nabi Saww bersabda : “Sesungguhnya al Husein akan dibunuh di tanah bernama Karbala, siapa saja yang menyaksikannya ia harus menolongnya” [al ishabah 1/69]

Hajjaj bin Masruq Ia adalah seorang Muadzin Imam Husein As.

Abdullah bin Taqthir

Abu Tsamamah Haidari

Wahab al Tsalabiyah

Abis bi Syubaib Syakiri

Abdullah Ghiffari

Abdurahman Ghiffari

‘Amr bin Khalid Al-Shaidawi Ia berkata Al-Husain as “Wahai putra Rasulullah, nyawaku kujadikan tebusan jiwamu. Aku ingin segera menyusul kawan-kawanku dan tidak ingin mati setelah anda. Sebab jika hal itu terjadi, berarti aku akan menyaksikan anda dibantai seorang diri di depan mata keluargamu.” Al-Husain as. menjawab, “Majulah! Kami akan segera menyusulmu.” Ia pun maju bertempur sampai akhirnya gugur

Handhalah bin Sa’ad Al-Syabami

Handhalah bin Sa’ad Al-Syabami datang dan berdiri di depan Al-Husain as. untuk melindungi beliau dari serangan anak-panah, pedang dan tombak musuh dengan wajah dan dadanya, sambil berseru,

“Hai kalian semua, aku khawatir nasib kalian akan berakhir seperti musuh-musuh Allah, seperti kaum Nabi Nuh, Tsamud dan lainnya. Allah tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya.

Wahai kaumku, aku mencemaskan keadaan kalian di hari kiamat kelak.Hari di mana kalian akan kebingungan dan melarikan diri, padahal tak ada yang dapat melindungi kalian dari kemurkaan Allah. Wahai kaumku, jangan kalian bunuh Al-Husain, karena hal itu dapat menjadi penyebab kalian dibinasakan oleh Allah dengan azab-Nya. Sungguh merugi orang yang membuat kedustaan.

Lalu ia berpaling menghadap Al-Husain as. dan berkata, “Bolehkah aku segera pergi menghadap Tuhan kita dan menyusul kawan-kawan yang lain?”

Beliau menjawab, “Pergilah ke tempat yang paling baik untukmu dari dunia seisinya! Pergilah menuju kerajaan Allah yang abadi!”

Ia maju dan berperang degan gagah berani. Dengan penuh kesabaran ia hadapi segala derita yang menimpanya hingga akhirnya ia jatuh tersungkur dan gugur sebagai syahid.

Suwaid bin Umar bin Abi Al-Mutha’

Ia adalah orang terhormat yang gemar salat, maju bertempur bak singa liar. Segala kepedihan dan keperihan ia hadapi dengan penuh ketabahan, hingga akhirnya jatuh di antara korban peperangan tak berimbang ini dengan berluimuran darah dari luka ynag ia alami. Tak ada lagi gerakan yang terlihat dari tubuhnya. Sampai kemudian ia mendengar suara orang-orang yang mengatakan bahwa Al-Husain as. terbunuh. Dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat, ia keluarkan pisau dari selah-selah sepatunya dan bangkit bertarung kembali hingga terbunuh.

Kepedihan Ali bin Husain As Sajjad As

Kondisi Imam Ali bin Husain As

Imam Ali bin Husain As atau Ali al Awsath adalah salah seorang putera Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib As yang ikut dalam kafilah kematian karbala. Kala itu usia beliau menginjak 23 tahun. Beliau as sedang sakit keras pada saat itu, sehingga harus ditandu untuk mengikuti ayahnya.

Beliau tak mampu untuk duduk maupun berdiri, hanya bisa tergeletak dan berjuang melawan pedihnya penyakit pada saat itu. Dan dengan kehendak dan Kuasa ALLAH AWJ pula beliau selamat dari pembunuhan. Kepedihan as Sajjad sangat mendalam atas musibah yang menimpa keluarganya di padang karbala, serta musibah atas perilaku umat datuknya. Beliau menyaksikan dengan mata kepala sendiri atas kekejian dan kekejaman para manusia berhati Iblis, beliau mencium sendiri bau anyir darah yang membasahi bumi karbala. beliau melihat sendiri tenda-tenda wanita yang dibakar musuh serta jeritan mereka yang dianiaya. Dipaksa diambil antingnya hingga berdarah, diarak berkeliling kota layaknya tontonan, bahkan ada yang mau diperkosa. Beliau mengalami itu semua dan melihat dengan jelas secara langsung. Sehingga sepanjang hidupnya setelah itu tragedi karbala menyisakan kepedihan mendalam, yang selalu teringat dan terkenang. Bahkan untuk sesuap nasi pun tak sanggup beliau telan. Apalagi segelas air bila mengingat kejadian tersebut.

Adiknya Al Asghar menangis

Bagaimana beliau tidak bersedih dan merasa malu untuk meminum air, sementara dikala itu adiknya Al Ashghar yang masih berusia 6 bulan harus meminum darahnya sendiri. Adiknya yang masih mungil, badannya masih lemah, tidak mampu menahan kehausan dan lapar, harus berpuasa berhari-hari karena dipaksa oleh lawan-lawannya. Bagaimana tidak bersedih kala mendengar jeritan adik kecilnya yang kehausan selama berhari-hari, sehingga tenggorokannya kering. Sementara tidak ada asi maupun air yang sanggup diberikan oleh sanak kerabatnya. Bagaimana beliau tidak bersedih melihat adiknya yang mungil ditahan dari minum, sementara beliau mendengar sendiri gemercik sungai furat yang bahkan anjing dan babi pun bebas untuk meminumnya. Kesedihan apa yang sanggup digambarkan bila melihat adiknya sendiri harus meraung-raung menangis sehingga suaranya habis tanpa ia sanggup untuk membantunya. Apalagi ketika beliau melihat sendiri ayahnya yang sampai harus memohon belas kasihan pada musuhnya, berusaha memancing hati para musuhnya yang sudah mati dengan adiknya yang masih kecil. Bukannya hati mereka terpanggil untuk memberikan setitik air pada adiknya. Justru panah yang mereka berikan tepat pada tenggorokan sang adik. Bagaimana seorang kakak mampu menghadapi kondisi tersebut, dimana ia sendiri hanya bisa duduk terbaring melawan penyakit yang menimpanya. Betapa sedihnya beliau sebagaimana ayahnya al Husain sedih saat sang adik menegang, menggeliat dan meregang nya di dalam pelukan sang ayah. Sehingga langit dan bumi pun berebut untuk menyimpan darah sang adik kecil tak berdosa itu, darah dari keluarga mulia sang utusan. Darah dari Al Musthofa Saw.

Kakaknya (Ali Akbar) yang mirip Rasul tega dihabisi

Bagaimana mungkin kita bisa menggambarkan kepedihan yang diderita oleh beliau ketika itu. Saat kakaknya sendiri Ali al Akbar harus bertarung sendirian menghadapi ribuan musuhnya. Kakak yang paling mirip dengan Rasulullah dalam rupa maupun tindak tanduknya. Kakak yang dengannya orang-orang melepaskan rindu ketika mereka merindukan kebaikan Rasulullah. Kakak yang selalu tersenyum santun menyambut kedatangan beliau. Kakak yang selalu taat dan tunduk pada ayahnya. Kakak yang selalu mengasihi saudara-saudara dan adiknya. Kakak yang selalu baik hati dan siap membantu orang lain.

Kesedihan mendalam beliau alami ketika mengingat kembaran Rasul itu harus berperang dengan umat yang mengaku pengikut Rasul. Umat yang sehari-hari mengumandangkan nama-nama Rasul di setiap ”sholat”nya. Umat yang selalu mendengungkan sebagai pecinta Rasul, umat yang mengaku meneladani Rasul, umat yang mengklaim sebagai pewaris sah rasul. Umat yang mengaku sebagai pelanjur risalah Rasul dan kenabian. Tetapi di kala itu mereka malah membunuh dan membantai anak cucu dan keluarga Rasul yang disucikan. Tiada kata yang sanggup menggambarkan kepedihan beliau saat itu. Seakan-akan beliau melihat Rasulullah sendiri sedang dikurung oleh ribuan musuh, di cabik-cabik oleh pedang-pedang terlaknat, serta dihujani dengan tombak dan anak panah. Seakan-akan beliau melihat Rasulullah sendirian tanpa pembela, ditengah serigala yang mengaku sebagai ummatnya. Musibah dahsyat apa yang harus beliau tanggung ketika mendengar ucapan terakhir orang yang paling mirip rasulullah mengucapkan dengan menyayat hati Alaika minnis salam pada ayahnya. Di saat akhir hayatnya kepada ayahnya al Husain. Inna lillah wa inna ilaihi Rojiun.

Jeritan Suci Ayahnya Al Husein As

Kedukaan dikala ayahnya memanggil-manggil umatnya dan berusaha menyadarkan mereka tetapi tidak ada yang bergeming. Derita yang harus beliau tanggung ketika tak mampu menyahuti panggilan sang ayah dan imam beliau : ”Man Anshoori Illalah ?”.

Kedukaan saat ayahnya sampai menjadi buta mendengar jeritan al Akbar, sehingga harus dituntun al Abbas. Kedukaan saat Ayahnya menjerit-jerit : ”Dimana engkau akbar, teruslah berteriak, aku tak mampu melihat engkau?”.

Wahai hati mampukah engkau menggambarkan ketidak berdayaan seorang Anak ketika mendengar ”jeritan” ayahnya menyayat hati saat kepalanya harus dipisahkan dari badannya…. Ketika mendengar jeritan ayahnya : ”Wa Muhammadah, Wa Aliyah, Wa Hasanah, Wa Ja’farah, Wa Hamzatah, Wa Aqilah………………

Keinginan Syahadah

Menjadi syahid adalah cita-cita mukminin sejati. Apalagi syahid di dalam pangkuan maulanya. Demikian pula dengan keinginan beliau menjadi syahid disaat itu. Yang kemenakan kecilnya saja mampu merasakan nikmatnya syahid dengan mengatakannya sebagai lebih manis dari madu. Bagaimana kita mampu menggambarkan perasaan as Sajjad, ketika satu-persatu sahabat dan saudaranya merengguk nikmatnya madu syahadah, sementara beliau harus tergeletak lemah tak berdaya. Tidakkah kita merasakan keinginan kuat menggapai syahadah, di kala pentas syahadah sudah digelar, sementara setiap orang telah memperoleh bagian syahadah yang dimimpikannya. Sementara beliau sendiri harus menunggu lagi beberapa lama. Tidakkah kita merasakan ”kecemburuan” beliau ketika melihat orang-orang diberi nikmat syahadah, ditempatkan di surga tertinggi, di dekat para anbiya, syuhada, shiddiqin dan shalihin. Serta melihat para sahabat beliau di jamu oleh Rasulullah, Amiril mukminin dengan tangannya sendiri. Dituangkan air dari telaga al kautsar dengan tangan-tangan suci mereka. Dan ditempatkan di tempat terdekat mereka. Bagaimana kita harus menggambarkan keadaan seseorang yang harus sejenak menunggu untuk menjadi seperti mereka. Sementara yang lain sudah menggapainya?

Pembangkangan 11 Anak Nabi Yaqub

Tatkala Nabi Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya ke sumur, Nabi Yaqub menjadi sedih, dan matanya menjadi putih dan buta. Nabi Yaqub mengetahui bahwa Yusuf masih hidup, dan kelak akan berjumpa kembali. Tetapi tetap saja kesedihan merasukinya. Kerinduan dengan Yusuf membuatnya menjadi buta. Itu adalah kondisi nabi Yaqub. Penderitaan As Sajjad lebih dari sekedar penderitaan Yaqub. Ketika Yaqub hanya ditinggal oleh seorang anaknya saja, Beliau harus ditinggal oleh seluruh sahabat, kerabatnya bahkan ayah dan maulanya sendiri. Ketika mata Yaqub menjadi putih saat ditinggal sementara oleh Yusuf, bagaimana dengan as Sajjad? Tidakkah beliau lebih hebat lagi. Beliau tidak hanya ditinggal sesaat untuk kemudian berharap bisa bertemu kembali, tetapi beliau ditinggal sebantangkara, dengan tanpa seorangpun mampu menjadi pelipur laranya. Sementara Yaqub masih memiliki bunyamin dan isteri-isterinya. Mata Yaqub menjadi putih dan bersedih akibat persekongkolan jahat para putra-putranya yang lain, yang mencelakakan dan mengasingkan Yusuf. Bagaimana sang Zainal Abidin tidak bersedih, yang bersekongkol tidak hanya 11 orang (seperti anak-anak Yaqub) tetapi seluruh penduduk kufah, yang jumlahnya ribuan orang. Bagaimana beliau tidak bersedih atas apa yang akan menimpa ribuan orang kufah tersebut. Sementara anak-anak Yaqub masih sempat bertaubat dan meminta ampun kepada Tuhannya. Tetap saja mata Yaqub menjadi buta dan memutih karena kesedihannya.

Penghinaan Bibi, Pelecehan Saudari

Kesedihan bagaimana yang mungkin dapat menggambarkan kondisi beliau. Dikala bibinya dirampas hijabnya yang selama ini terus dijunjung tinggi oleh beliau. Sementara beliau tergolek lemah dengan keinginan besar membantu, tetapi apa daya…. Beliau juga harus melihat telinga saudarinya terkoyak hancur demi anting-anting usang yang menghias saudarinya… Beliau harus mendengar jerit ketakutan kala melihat tenda-tenda mereka dibakar dan diporak porandakan. Beliau menyaksikan sendiri bagaimana para serigala berebut putri-putri suci nabi untuk dijadikan sebagai budak dan pelacur. Bagaimana hati tidak hancur ketika kaki-kaki suci para wanita-wanita suci harus dirantai bak hewan hewan yang digiring menuju tempat penyembelihan.

Wahai duka nestapa. Bilamana engkau mampu menggambarkan kondisi sang Abidin ketika ribuan orang melempari mereka dengan makanan, sayuran dan buah-buahan busuk laksana seorang gila yang diarak-arak berkeliling kota. Sementara mereka adalah bidadari-bidadari Nabi. Kesedihan apa yang mampu engkau gambarkan atas keadaan as Sajjad menyaksikan itu semua, sementara beliau sendiri dipaksa dan tak mampu untuk membela mereka, sebagai satu-satunya lelaki yang masih hidup yang tersisa dari kafilah duka tersebut. Apa yang dapat engkau bayangkan atas kesedihan mendalam as Sajjad ketika harus dipaksa meninggalkan jasad ayahnya, saudaranya, kerabatnya, sahabatnya, dan semuanya tanpa dimandikan, tanpa dikebumikan, tanpa dikafani, tanpa disholati, tanpa dihormati, untuk berpamitan terakhir pun tidak mungkin, bahkan dengan anggota-anggota badan yang terpisah dari tubuh-tubuhnya. Terkoyak-koyak tak terurus, bak sampah yang setiap orang jijik untuk melewatinya.

Duka apa yang dapat menggambarkan seperti duka Sang Abidin, ketika kepala-kepala maulanya, saudaranya, kerabat dan sahabat-sahabatnya harus ditendang-tendang, dipukul-pukul, di ayun-ayun bagaikan bola. Diputar-putar, diarak diatas tombak-tombak duka. Sementara kepala-kepala itulah yang selalu menempel ditanah melakukan sujud. Bibir-bibir itulah yang selalu mengalunkan ayat-ayat suci Tuhan. Bibir itu pula yang selalu mengulas senyum dan menebarkan salam. Serta bibir dan leher itu pulalah yang selalu dicium dan dijaga oleh Rasul al Musthofa…

Kota Nabi Suci Yang Dinodai

Duka semakin bertambah-tambah. Ulah penguasa semakin menjadi-jadi. Menghancurkan segala apa yang telah dibangun dan dirintis oleh datuknya. Kekacauan dan kerusakan yang ditebarkan oleh orang yang mengaku sebagai pengikut datuknya. Kebiadaban yang diterorkan oleh orang yang mengaku mengikuti agama datuknya. Kebejatan yang disebarkan oleh orang yang mengaku sholat seperti sholatnya datuknya.

Keluarga Nabi telah dihancurkan, menyisakan puing-puing derita. Tetapi seakan tidak cukup dengan itu semua, kota Nabi pun turut menjadi sasaran mereka. Makkah diserbu, ka’bah dihancurkan dengan ribuan batu.

Madinah diserbu, dihancurkan, dan dibakar oleh umat yang mengaku sebagai umat yang kotanya mereka bakar. Bagaimana as Sajjad tidak merintih kala melihat ribuan gadis menjadi korban kebiadaban tentara terlaknat itu. Di depan mata beliau sendiri, sementara beliau ditahan tanpa mampu memberikan bantuan. Bagaimana beliau tidak berduka dikala ribuan bayi lahir tanpa ayah akibat kebinatangan pasukan laknat. Apa yang dapat beliau sampaikan untuk menghibur hati para wanita tersebut. Kehancuran yang ditorehkan oleh pasukan terlaknat yang dipimpin oleh orang yang terlaknat yang selalu membekas hingga akhir hayat mereka. Malu dan derita tak mungkin terbayangkan.  Apalagi yang ditanggung oleh maula Ali Zainal Abidin….
Salam alaika ya maulay….

Kesedihan Ruhullah Isa As, Rasulullah Saw, Imam Ali As.

Para Nabi dan Rasul- Rasul terdahulu selalu bersedih dan berbela sungkawa atas duka dan penderitaan yang akan dialami oleh al Husain beserta keluarganya dikala memasuki bulan Muharram.

Ruhullah Isa As tersedu-sedu ketika sampai di Nainawa, dan membayangkan apa yang akan ditanggung oleh al Husain, sehingga pengikutnya ikut menangis meski tak mengerti sebabnya. Rasul pun menangis tatkala bayi mungil al Husain dilahirkan, bukannya kegembiraan yang ditunjukkan. Tangisan duka pertama atas al Husain adalah saat kelahiran beliau. Rasul Saww selalu menciumi leher mungil beliau dan memperingati kaumnya akan perlakuan atas cucunya ini. Rasul selalu berduka atas al Husain, begitu juga Amirul mukminin yang tersedu sedan saat tiba di karbala. Inilah tanah duka dan bencana….

Meski kejadian tersebut belum terjadi, mereka semua merasa berduka atas kabar yang telah disampaikan oleh langit.

Bagaimana mungkin kita dapat menggambarkan duka yang harus ditanggung oleh As Sajjad…. Beliau harus mengalami semuanya itu.. melihatnya sendiri… mendengarnya sendiri… mencium segalanya sendiri secara langsung. Dengan mata beliau sendiri melihat banjir darah di nainawa, dengan telinga beliau sendiri beliau mendengar semua jeritan dan sayatan para kerabat dan sahabatnya, dengan hidung beliau sendiri beliau harus mencium bau amis keluarganya yang bercampur dengan debu – debu dan diinjak-injak oleh kuda-kuda terlaknat. Dengan hati beliau sendiri beliau harus merasakan duka dan jeritan para wanita ahlulbait tatkala Kuda putih al Husain harus kembali ke tenda sendiri, tanpa penunggang, dan dihujani panah……..

Perilaku masyarakat

Yang lebih menyedihkan bagi beliau tentunya adalah perilaku masyarakat saat itu. Masyarakat sudah tak perduli lagi dengan kebaikan. Tak menghiraukan peringatan tentang penderitaan abadi. Tenggelam dalam Bid’ah. Tak malu hidup didalam kehinaan, penindasan dan teror dari penguasa. Meski darah-darah mereka telah ditumpahkan. Meski harta-harta mereka diambil, meski wanita-wanita mereka dilecehkan, meski anak-anak mereka dirusak moralnya. Mereka tetap takut, ciut nyalinya atas tindakan represif penguasa.

Mungkin, penduduk kufah saat itu adalah seperti kita saat ini. Dikala imam Husain belum datang kepada mereka, mereka saling berikrar, berbaiat, mengikat janji dan mengundang Imam Husain agar segera muncul dan hadir memimpin mereka dalam melawan penindasan saat itu. Tetapi, ketika sedikit ujian datang, saat Muslim bin Aqil ditindak penguasa dengan mengenaskan, nyali mereka menjadi ciut, patah arang, bahkan berbalik menjadi antek-antek penguasa. Sebelumnya ribuan surat mereka ajukan pada al Husain, dikala lain ribuan tombak panah dan pedang mereka hunuskan kepada al Husain.

Dikala sebelumnya mereka mengelu-elukan kedatangan al Husain, dikala lain mereka mengolok-olok al Husain dan menghinakan keluarganya bak domba dan yontonan. Di kala sebelumnya mereka berdoa demi kemunculan al Husain dan menjadi pemimpin mereka atas penindasan, di kala lain mereka bersumpah serapah atas al Husain, mengoyak tubuhnya, mencincang jasadnya, merebut pakainnya, menghacurkan tangannya demi sepotong cincin, menarik sorbannya, menelantarkan jasadnya, menendangi kepalanya, mengarak keluarganya. Memperkosa umatnya. Mengangkangi haknya. Dan semua puncak kebejatan yang tak terlukiskan.

Tidak mudah menjadi pengikut al Husain As dan al Qaim AFS. Dikala lapang sangat mudah mengaku menjadi pengikut, belum tentu nanti disaat ujian telah datang.

Semoga Allah membantu kita di dalam perjuangan ini…. Assalamu alal Husain, Aali bin Husain, Awlaadil Husain, Ashaabil Husain.

Balasan Atas Para Pembantai Imam Husein As

Ditengah kerumunan Pesta pembakaran Kemah Karbala, Umar Bin Saad (LA) berteriak dengan lantang, “Siapa yang mau menjadi sukarelawan untuk menginjak-injak jasad Al-Husain dengan kaki kudanya ?”segera sepuluh orang maju menyatakan kesediaan mereka. Mereka adalah : Ishaq bin Haubah yang juga merampas baju Al-Husain. Akhnas bin Mirtsad.

Hakim bin Thufail Al-Sabi’I, ‘Amr bin Shabih Al-Shaidawi, Raja’ bin Munqidz Al-’Abdi Salim bin Khaitsamah Al-Ja’fi, Shaleh bin Wahb Al-Ja’fi, Wahidh bin Ghanim, Hani bin Tsubait Al-Hadhrami, Usaid bin Malik.

Kesepuluh Manusia Durjana itu maju dan menginjak-injak jasad Al-Husain as. dengan kaki kuda mereka hingga dada dan punggung Cucu Nabi Saww itu hancur.. (Ya Husseinna..…Ya Husseinna..…Ya Syahidda….Diselingi Gelak Tawa dan Tanpa Rasa Takut mereka terus melakukan perbuatan kejinya.

Hingga ketika mereka sampai di Kuffah Kesepuluh Manusia Hina itu datang menghadap Ubaidillah bin Ziyad. Usaid bin Malik, salah seorang dari mereka, berkata : Kamilah yang menghancurkan dada dan punggungnya Dengan kuda yang lincah dan bertali kekang kuat Kepada mereka Ibnu Ziyad bertanya, “Siapakah kalian?”

Dengan bangga mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang menginjak-injak jasad Al-Husain dengan kuda kami. Kami telah berhasil melumatkan punggung dan dadanya.”

Ubaidillah bin Ziyad sangat puas mendengar jawaban itu. Ia lalu memerintahkan untuk memberi mereka sedikit hadiah.

Seorang Tabi’in Abu Umar Al-Zahid berkata, “Setelah kami teliti, ternyata kesepuluh orang tersebut adalah anak hasil zina.”

Manusia Manusia Hina yang telah melakukan kekejian pada Cucu Kinasih Nabi al Husein As pun di akhir hayatnya diperlakukan secara sama oleh Mukhtar yang mengobarkan pembalasan pada Kaum durjan, hingga akhirnya Mukhtar berhasil menangkap mereka semua. Setelah mengikat mereka dengan rantai besi, ia memerintahkan pasukan berkudanya untuk menginjak-injak dan melumatkan punggung mereka. Mereka semua tewas dengan cara demikian.

Atha’ bin Abi Rabbah, seorang tabi’in juga berkata: Aku pernah bertemu dengan seorang buta yang ikut menyaksikan pembantaian terhadap Al-Husain as. Kepadanya aku bertanya perihal penyebab kebutaannya.

Dia menjawab, “Aku menyaksikan pembantaian itu dari dekat. Bahkan aku termasuk salah satu dari kesepuluh orang tersebut. Hanya saja aku tidak ikut andil memukul atau melempar sesuatu kepada Al-Husain. Setelah beliau terbunuh, aku pulang ke rumahku, lalu melaksanakan salat Isya’ dan kemudian tidur. Tiba-tiba aku melihat ada seorang yang datang kepadaku dan mengatakan, “Jawablah pertanyaan Rasulullah !

“Kukatakan, “Ada apa sehingga aku mesti pergi menemui beliau ?”

Tanpa menjawab, ia memegangku dengan erat dan menyeretku. Aku melihat Nabi Saw. duduk di padang sahara. Kegelisahan tampak jelas pada raut wajahnya. Beliau bertopang dagu pada kedua tangannya. Sebuah senjata kecil ada di tangan beliau. Di sebelah Rasulullah Saw, kulihat ada seorang malaikat yang berdiri tegak dengan menghunus pedang yang terbuat dari api. Sembilan orang temanku telah lebih dahulu tewas di tangannya. Setiap ia memukulkan pedangnya, api segera tersembur darinya dan memanggang tubuh mereka.

Aku mendekat ke tempat beliau berada dan bersimpuh di hadapannya. Aku sapa beliau, “Assalamu ‘alaika, ya Rasulullah.” Tak kudengar jawaban beliau. Lama beliau berdiam diri. Kemudian sambil mengangkat wajahnya, beliau bersabda, “Hai musuh Allah, kau telah menginjak-injak kehormatanku, membantai keluargaku dan tidak mengindahkan hakku sama sekali. Bukankah demikian ?”

Jawabku, “Ya Rasulullah, demi Allah, aku tidak ikut andil dalam memukulkan pedang, menusukkan tombak atau melemparkan anak panah sama sekali.”

“Benar,” jawab beliau. “Tapi bukankah kau telah ikut dalam menambah jumlah mereka ? Mendekatlah kemari !” Aku mendekat. Beliau menunjukkan kepadaku sebuah bejana yang dipenuhi darah seraya bersabda, “Ini adalah darah cucu kesayanganku Al-Husain.”

Lalu beliau memoles mataku dengan darah itu. Ketika terjaga dari tidurku, mataku menjadi buta sampai sekarang.”

Balasan Akhirat Lebih Pedih..!!

artikel diambil dari berbagai sumber…cogito ergo sum

3 Responses

  1. WONDERFUL Post.thanks for share..more wait .. …

  2. Hi. this is type of an -unconventional- question , but have other visitors asked you how get the menu bar to look like you have got it? I also have a blog and am actually looking to alter around the theme, nonetheless am scared to death to mess with it for fear of the search engines punishing me. I am very new to all of this …so i’m just not positive precisely the way to try to to it all but. I’ll just keep working on it 1 day at a time.

  3. Yes, thats exactly what I wanted to hear! Fantastic stuff here. The information along with the detail were just best. I believe that your perspective is deep, its just well thought out and truly amazing to see someone who knows how you can put these thoughts down so nicely. Fantastic job on this.